TENTANG SEBUAH KERINDUAN

 

TENTANG SEBUAH KERINDUAN

Nona, kali ini rindu telah membuatku lunglai. Mematahkan tubuhku tanpa ampun, lalu berisik perih seperti terbawa lirih angin kering tanpa pamrih. 

Aku merebahkan diri dengan air mata, basah kuyup. Dicumbui kabut hitam. 

Saban hari aku mengingat wajah manismu yang pamit dengan perjuangan memisahkan kita. Bahkan beberapa hari ini, rinduku semakin terasa diingatan serta hatiku. Bergerak begitu gelisah.

Nona, aku rindu!

Aku selalu tertegun membayangkan matamu yang mawar, senyummu yang indah dan kelembutanmu yang begitu ramah.

Masikah kau ingat, Nona? sesaat sebelum kita menjemput perpisahan. Langit berdarah-darah, merahnya telah bersimbahan di tubuh kita. 

**

Malam berlalu. Kau, Nona. Perempuan yang terbiasa duduk memandang bintang tepat malam mulai larut. Duduk di sebuah bangku menetralkan wajah senyum dengan senandung sambil menghirup wewangian serumpun melati. Menjadi perempuan khayalanku. 

Namun malam-malam berlalu, ditempat kau mengamati bintang-bintang. Aroma wawangian melati tercium amis menyengat. Sebab tidak ada lagi tubuh dan jiwamu di tempat itu. Bahkan terlihat kucing liar mengeong dan matanya mengitar ke sekelilin dengan air mata. Barangkali matanya tertumbuk pada sebujur bayangmu.

**

Sejak kau pergi, Nona. Aku selalu mengejar kerinduan di bawah bintang yang katanya terlihat berkilau di sudut negeri lain. Lantas ketika bulan kehilangan cahayanya, aku tidak akan pernah bisa membayangkanmu di sampingku.

Di atas sana, bulan sedang bersembunyi, bisa jadi hilang. Wajah piasmu terlihat di balik awan hitam. Begitu menghilang. Mungkin langit sedang menyembunyikan luka-lukanya.

Kenapa, Nona. Kenapa kau membiarkan aku direnggut rindu, saban hari ?

Apakah aku tidak pantas bahagia?

Bukankah kebahagiaan itu hak semua manusia? Lalu kenapa bahagia tidak merata tumbuhnya. Selalu saja ada yang ditakdirkan untuk berkubang dalam kesedihan, seperti aku. 

Atau apakah aku yang terlihat begitu tolol ? 

Yah, kadang hidup begini adanya. Banyak sandiwara!  

Ahh, Nona. Hari-hari terlihat begitu buruk dan tak berguna. Waktu selalu mengajakku berpacu juga jiwaku terasa begitu sia-sia. Aku ingin sekali melihatmu pulang. Sebab rindu itu sebenarnya hal yang sangat sederhana, yaitu bertemu. Kita bisa mengobatinya dengan waktu bersama.

Ratusan malam aku tapaki dengan paksaan, serta bergumul dengan segala kerinduan yang merungkupku. Guratan senyum yang terpaksa. Aku bisa saja mati bersama kerinduan ini.  

Bahkan ketika aku bagun pukul 6 pagi.

Terlihat hanya sepiring kebahagiaan yang sudah basi. kau meninggalkannya di atas meja. Dan ternyata itu adalah sebuah kiriman yang kau kirimkan, Nona. Adalah sebuah pergimu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Fajar, Kamu Senja