TENTANG SEBUAH KERINDUAN
TENTANG SEBUAH KERINDUAN Nona, kali ini rindu telah membuatku lunglai. Mematahkan tubuhku tanpa ampun, lalu berisik perih seperti terbawa lirih angin kering tanpa pamrih. Aku merebahkan diri dengan air mata, basah kuyup. Dicumbui kabut hitam. Saban hari aku mengingat wajah manismu yang pamit dengan perjuangan memisahkan kita. Bahkan beberapa hari ini, rinduku semakin terasa diingatan serta hatiku. Bergerak begitu gelisah. Nona, aku rindu! Aku selalu tertegun membayangkan matamu yang mawar, senyummu yang indah dan kelembutanmu yang begitu ramah. Masikah kau ingat, Nona? sesaat sebelum kita menjemput perpisahan. Langit berdarah-darah, merahnya telah bersimbahan di tubuh kita. ** Malam berlalu. Kau, Nona. Perempuan yang terbiasa duduk memandang bintang tepat malam mulai larut. Duduk di sebuah bangku menetralkan wajah senyum dengan senandung sambil menghirup wewangian serumpun melati. Menjadi perempuan khayalanku. Namun malam-malam berlalu, ditempat kau mengam...