IMPIAN DAN MIMPI
IMPIAN DAN MIMPI
Wajah-wajah tersirat pada lukisan jalanan. Tergantung antara impian dan mimpi. Satu waktu bisikan itu menjatuhkanmu dengan apa kau raih impianmu jadi berhentilah bermimpi. Karena abu tetaplah abu, bukan sinderella yang ditemukan pangeran dengan sepasang sepatu kaca.
Jika bermimpi adalah cara-Mu agar diri ungkapkan setiap gelisah. Mengatakan apa yang tak terkatakan dan hanya dalam mimpi KAU memberiku jalan untuk leluasa bicara. Satu diantaranya tentang resahku yang masih belum mampu memantaskan diri di hadapan-Mu.
Sedang impian, KAU memberiku keinginan untuk sebesar-besarnya impian. Karena sungguh tiada daya dan kekuatan untuk mewujudkan impian itu selain atas kehendak-Mu. Jatuh bangun hati dan realita berseberangan. Maka bathin berbisik pasti.”Kun” jadilah.
Setiap jalan yang ditempuhi tentu berbeda tingkat landai dan terjalnya. Semakin tinggi impian akan semakin besar angin bertiup kencang. Mencoba goyahkan dan sesekali kaburkan pandangan agar tak sampai pada tujuan.
Kembali pada hakikat setiap yang hidup membawa takdirnya masing-masing. Jika hari ini hanya lukisan jalanan. Ketika hati telah mencapai cinta dan kepasrahan maka yakinlah lukisan itu satu hari nanti akan terpajang pada satu ruang yang tak ternilai harganya.
Di ruang itu bukan sebagai lukisan jalanan dalam pandangan. Tapi gambar yang memberikan kehidupan pada pemiliknya. Jika mimpi membuatmu bicara. Maka impian memberimu kekuatan untuk bertahan.

Komentar
Posting Komentar