ELEGI SANG HUJAN



ELEGI SANG HUJAN

Layangkan rindu, seiring gerimis yang kembali basahi bumi. Musim baru saja bersemi dengan warna langit yang begitu tegas dan indah. Birunya angkasa hanyutkan para pujangga untuk merangkai kata. 

Tarian pena bergerak berirama, suka atau tidak untuk dimaknai. Biarkan mata dan hati yang menikmati. Huruf-huruf kususun dengan jujur, kata kutata tiada dusta. menjadi payung yang meneduhi saat semua orang mematung di bawah atap-atap tak bertuan.

Sang hujan mengajariku untuk tulus. Kehadirannya kadang dikeluhkan, saat menghilang begitu diharapkan. Menjadi berkah untuk mereka yang memahami arti bersyukur. Menjadi keluhan untuk mereka yang tak membaca luruh berkahnya.

Begitu pandai hujan membaca. Saat bumi berkecamuk oleh gelisah di basahi dengan rintiknya sekedar memberi sejuk agar kita tak semakin kalut. Dan rintiknya pula adalah air mata dari duka kehilangan orang tercinta.

Hujan mengantarkan kita pada kenyataan. Betapa tak harus menjadikan ini sebagai ketakutan. Seperti petir yang berkilat dengan nyalang. Baranya bagai anak panah izrail. Melesat menyambar siapa saja tanpa pilah kasta.  

Saat gersang melanda, jiwa-jiwa hampa memuja hujan. Mengundang untuk bertandang dengan bebunyian bak genderang perang. Riuhnya juga dirindukan anak-anak mengukir kegembiraan sederhana, mencipta cerita nan sahaja.

Ah, sejenak berhenti tak ingin berpuisi wahai hati. Berjeda sesaat rasa enggan bersajak dan bercengkarama dengan majas. Hanya butuh waktu untuk memahami. Seperti hujan yang memahami kemarau akan selalu merindukannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Fajar, Kamu Senja