Gajah Putih
Gajah Putih
IPUNK èstoh
Badai turun didalam hutan
Badai turun didalam sajak sajakku
Selalu sayang, aku terkenang kepada kau
Sudah bulan desember akhir, hujan jatuh di hutan kenari
Sisakan becek di pelosok desa menjadi lumpur tak bermakna
13 ekor elang terbang melangit mengejar mimpi
Mengolah aksara yang tak pasti dan sepi
Keringat mengalir dari sumber-sumber mata air suci
Aku masih ingat semangat yang mengalir lima november lalu
Teriakan dan dukungan bergebu-gebu hanya untuk menaikkan akreditasinya
Setelahnya, kau diiris bahkan mungkin akan di goreng sebagai pelepah santapan siang hari
Badai turun didalam hutan
Badai turun didalam sajak-sajakku
Sangat miris sekali kau, nama kau menjadi hiasan negeri ini
Tetapi kau tak bisa kembali sayapnya patah tak ada ganti
Oh, ayah ibu kau memeras air mata dan keringat, doa dan tasbih menjadi sandaran
Khawatir dan kecemasan adalah penyebab
Sarang sangkar kau sudah lama meratap
Apa yang harus dilakukan penyair, bila bahasa hanyalah menjadi provokasi, kata-kata hanya menjadi sajak semata
Sedangkan kekuasaan telah menjadi benih didalam aksara yang nyata.
Pangarangan, 20 Desember 2017

Komentar
Posting Komentar